mediajava

blog berita,info,Herbal,news,iklan

Tradisi-Budaya Ilmiah Dalam Agama Islam

Dalam kronologi sejarah, khususnya pada bidang ilmu pengetahuan, konon sebelum barat mengalami masa-masa keemasannya, maka timur-lah yang diwakili oleh Islam lebih dahulu mengalami masa-masa kejayaannya. Maka dari itu pada hakikatnya bangsa timur lebih mengenal salah satu tradisi, yakni tradisi ilmiah jauh sebelum bangsa barat memiliki tradisi. Akan tetapi, diam-diam barat mencoba untuk berguru kepada Islam, tanpa disadari mereka mempelajari apa yang Islam teorisasikan, dan perlahan-lahan mereka mulai membenahi dirinya dan serasa ingin keluar dari zaman kegelapannya.

Namun disisi lain pada perkembangannya, tradisi ilmiah Islam mengalami masa-masa kemunduran ketika umat Islam telah hanyut di dalam jurang keglamoran tanpa adanya keinginan untuk terus menggali warisan-warisan pengetahuan. Sehingga hal ini menciptakan keterpurukan bagi umat Islam dengan keadaan sebaliknya yakni bangsa barat mulai terbit, dan pada akhirnya hingga sampai kini umat Islam tidak lagi memimpin layaknya pada masa-masa keemasannya. Barat menjadi pengendali dunia dan tentunya memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap dunia melewati usaha-usaha imperialismenya.

Islam yang pada awalnya berada di atas barat, kini menjadi di bawah barat dan bahkan dijajah oleh barat, sehingga menimbulkan dampak yang sangat memprihatinkan, salah satunya adalah umat Islam telah lupa bahwa sebenarnya mereka dahulu pernah memimpin dunia dan sempat dijadikan rujukan oleh barat. Mereka menjadi mengagung-agungkan barat dengan segala kemahirannya dan mengabaikan bahwa faktanya bangsa barat maju berkat tradisi ilmiah yang dilakukan oleh umat Islam.

Makalah ini akan membahas tentang peradaban umat Islam yang ternyata pada masa keemasannya mereka telah memiliki tradisi ilmiah yang sangat hebat. Dengan memaparkan faktor-faktor pendukung tradisi ilmiah itu terjadi dan juga menggali berbagai metode-metode ilmiah yang mereka galakkan.

Faktor-Faktor Pendukung Tradisi Ilmiah
Menurut buku Reaktualisasi Tradisi Ilmiah Islam, ada tiga faktor yang mempengaruhi mengapa tradisi ilmiah dalam kubu Islam ini begitu berkembang, yakni faktor agama, apresiasi masyarakat pada ilmu pengetahuan dan patronase penguasa, ketiganya akan dijelaskan di bawah ini:

• Faktor Agama
Sekiranya kalau mau kita menelusuri aspek penekanan pentingnya ilmu pengetahuan dalam agama-agama manusia, maka sesungguhnya Islam-lah yang paling sering menekankan para pemeluknya untuk berapresiasi terhadap ilmu pengetahuan. Baik dalam Al-Qur’an maupun hadits, Islam begitu menjunjung tinggi ilmu pengetahuan, seperti contoh adanya hadits yang menggambarkan bahwa ilmu itu adalah sebuah cahaya/Al-‘ilmu nùr, yang seakan-akan siap untuk membuka tabir-tabir kegelapan menuju cahaya kemuliaan.

Dalam naskah hadits lainnya, upaya untuk mencari ilmu itu adalah suatu kewajiban/Utlub al-‘ilm faridhatan ala kulli muslimîn wa muslimât, tidak ada perbedaan antara muslim laki-laki dan perempuan untuk mencari ilmu, semuanya sama-sama telah diwajibkan untuk mencari ilmu itu sendiri sampai tutup usia/Utlub al-‘ilma min al-mahdî ila al-lahdî. Pun juga usaha untuk mencari ilmu tersebut tidaklah hanya bertindak pasif, akan tetapi harus aktif proggresif, sehingga Rasulullah saww menggambarkan bahwa sejauh apapun ilmu itu berada maka kita harus mengejarnya/Utlub al-‘ilma wa lau fî al-sîn, carilah ilmu itu walau sampai ke negeri Cina, ini mengindikasikan bahwa ukuran jarak tidaklah penting bagi seorang pencari ilmu untuk mendapatkan ilmu tersebut.

Contoh terakhirnya yang juga dilakukan oleh umat muslim pada masa itu adalah berdasarkan hadits dari Imam ‘Ali as bahwa “Ambillah ilmu itu walaupun berada di lidah anjing”, kita tahu bahwa anjing dalam agama Islam adalah najis, akan tetapi jika anjing tersebut bermanfaat untuk kita seperti yang dicontohkan dalam hadits tersebut yakni dapat memberikan ilmu, maka selayaknya jangan segan untuk mengambilnya, dan ini yang menjadikan tolok ukur umat muslim sampai rela memburu manuskrip hingga ke Yunani yang notabene mayoritas beragama nasrani.

• Apresiasi Masyarakat
Tentunya, beberapa umat muslim yang memiliki tingkat keimanan yang tinggi pasti akan menyadari bahwa betapa pentingnya ilmu tersebut. Sehingga mereka mengapresiasi eksistensi ilmu yang berkembang yang berbentuk karya-karya tertulis maupun semacam seminar-seminar yang diadakan oleh penguasa, atas dasar itu, mereka juga bisa dibilang sebagai salah satu factor penggerak tradisi ilmiah dalam ruang lingkup Islam.
Masyarakat Islam pada masa itu begitu disibukkan dengan kegiatan-kegiatan yang berbau keilmuan, mulai dari pidato-pidato para ulama sampai debat terbuka antar ulama. Masyarakat di Baghdad misalnya, mereka sangat menggemari acara debat terbuka yang sering dilaksanakan di tempat-tempat umum, debat terbuka tersebut lebih banyak dilakukan oleh para teolog dan filosof.
Maka seperti itulah apresiasi dari masyarakat Islam tentang pentingnya ilmu bagi mereka, sehingga lambat laun masyarakat Islam menjadi bangsa yang terdidik dan memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi di antara bangsa-bangsa lainnya.

• Patronase penguasa
Selain itu, patronase penguasa juga menjadi faktor atas perkembangan ilmu pengetahuan di dalam Islam. Patronase penguasa ini adalah upaya yang dilakukan oleh penguasa dan para orang-orang kaya untuk memberikan perlindungan dan dukungan yang sangat loyal kepada para akademisi muslim untuk melakukan kegiatan-kegiatan ilmiah. Sehingga mereka tidak segan-segan mengucurkan dana untuk riset mereka, mendirikan suatu lembaga pengajaran ilmu seperti madrasah, perpustakaan dan lainnya.

Tentu saja jika ada salah satu dari mereka yang berhasil membuat suatu karya ilmiah, maka para penguasa dan orang-orang kaya akan mengupahinya dengan upah yang sangat mahal, dalam sejarahnya mereka memberikan emas seberat karya yang telah dirumuskan.

Sehingga banyak dari masyarakat Islam yang tertarik dengan mengadakan penelitian ilmiah, mulai dari melakukan penelitian medis, hingga memburu manuskrip-manuskrip filsafat Yunani ke Athena untuk diterjemahkan dan dipelajari.

Seperti itulah rasa antusiasme yang pada masa itu terjadi, baik dari masyarakatnya maupun para pembesar-pembesar kaya sama-sama begitu haus akan ilmu. Atas adanya realita ini, maka lahirlah para sarjana-sarjana muslim dengan bekal pengetahuan yang sangat cemerlang, layaknya Ibn Sina, Ibn Rusyd, Al-Razi, Al-Ghazali dan masih banyak sarjana-sarjana muslim lainnya yang tidak kalah pintarnya.

Macam-macam Metode Ilmiah
Sebelum kita menginjak pada bahasan-bahasan metode ilmiah yang digunakan oleh para ilmuwan muslim, hendaknya kita mengartikan dulu apa yang dimaksud dengan kata ilmiah. Karena selama ini kata ilmiah cenderung diartikan kepada scientific yang mana hanya dibatasi pada bidang-bidang empiris saja. Padahal sebenarnya hal yang bersifat ilmiah itu jika kita sandarkan dari kata aslinya yakni ilmu, maka seharusnya tidak hanya dibatasi dalam bidang fisik saja, karena ilmu jenisnya bermacam-macam, ada yang bersifat inderawi dan juga ada yang bersifat non-inderawi. Jadi intinya, metode ilmiah adalah metode penelitian ilmu yang menggunakan berbagai macam metode yang dapat dipertanggungjawabkan. Seperti apakah macam-macam dari metode ilmiah tersebut? Maka akan dibahas di bawah ini.

• Metode Tajribi
Metode tajribi adalah metode pengamatan objek fisik yang tentu saja alatnya dengan menggunakan indera, atau yang seringkali dilakukan oleh para peneliti barat yakni metode eksperimen. Dalam tradisi ilmiah Islam, pengamatan terhadap objek fisik dilakukan pada dua level, yakni level teoritis yang mana para ilmuwan muslim mengkaji dengan seksama secara kritiskarya-karya ilmiah di bidang fisika tertentu semisal astronomi, kedokteran dan lainnya. Dan level kedua yakni level praktis yang mana mereka berupaya untuk membuktikan kebenaran suatu teori.

Pada perkembangannya, karena metode tajribi ini menggunakan metode pengamatan indera, yang mana bisa saja memunculkan pandangan subyektif karena kemampuan indera antara satu individu dengan individu lainnya berbeda maka diciptakanlah ukuran-ukuran (kilometer, hectometer, dekameter dan lain-lain) untuk memberikan kesan obyektif pada pengamatan tersebut. Pun juga keterbatasan indera mata kita yang memungkinkan tidak dapat melihat benda yang kasat mata seperti kuman, virus dan lainnya, maka dari itu para ilmuwan muslim menciptakan alat bantu penglihatan mata untuk emlihat benda kasata mata tersebut dengan lebih jelas lagi, seperti mikroskop dan teleskop untuk melihat benda angkasa.

• Metode Burhani
Karena pada hakikatnya objek kajian ilmu itu tidak hanya terbatas pada hal-hal yang bersifat empiris saja, melainkan ada objek kajian ilmu yang bersifat non-fisik, maka secara tidak langsung ini memungkinkan harus ada suatu alat peneliti yang dapat menjangkau objek non-fisik tersebut. Maka para ilmuwan muslim meyakini bahwa alat itu adalah akal. Dengan adanya akal sebagai alat peneliti objek non-fisik, maka terciptalah suatu metode baru yang bersifat beyond fisik yakni metode burhani.

Karena melebihi dari indera kita, maka akal diklaim sebagai alat peneliti yang lebih baik daripada indera kita. Disebut-sebut akal mampu memahami realitas dan tidak hanya sekedar melihat, mencium, mendengar layaknya indera kita. Selain itu akal tidak mengenal jarak yang bagi indera kita dijadikan sebagai kelemahan. Mau jauh ataupun dekat tidak ada bedanya, karena akal tetap mampu untuk menggapainya. Kelebihan akal lainnya yakni ia mampu menerobos aspek bathin dari suatu realitas, sehingga ia bisa mengetahui macam-macam sifat bathin seperti cinta, kasih, bahagia, sedih dan lainnya.

Akan tetapi, apa-apa yang diasumsikan oleh akal, kebenarannya tidak dapat dijamin 100%, maka dari itu, akal selayaknya harus ditopang oleh metode lain yang bisa menghantarkannya mencapai suatu konklusi yang benar. Metode tersebut untungnya telah dirumuskan oleh Aristoteles dalam disiplin ilmu logika. Dengan bantuan premis mayor dan premis minor yang masing-masing memiliki kriteria-kriteria tertentu, akal terbukti dapat terbantu mencapai kesimpulan persepsi yang benar.

• Metode Bayani
Metode bayani adalah metode yang merujuk kepada suatu teks yang mana teks tersebut diyakini memiliki kandungan pengetahuan. Karena hal ini djijalankan oleh umat Islam, maka sudah barang pasti bahwa Al-Qur’an dan hadits-lah yang dijadikan sebagai teks rujuakn tersebut. Metode bayani ini dilakukan setidaknya untuk mengurai ilmu yang terdapat di dalam Al-Qur’an dan hadits.

Khususnya dalam Al-Qur’an, dari metode bayani inilah ayat-ayat Al-Qur’an menjadi terklasifikasikan, yakni ada pembagian muhkamât dan mutasyabihât, dzhâhir dan mubayyan, âm dan khâs dan lain sebagainya.

• Metode Irfani
Setelah kita tahu bahwa pengetahuan yang kita dapat melewati indera tersebut sifatnya terbatas, bahkan jika kita telisik lebih dalam lagi bahwa sebenarnya realitas yang dapat kita indera tersebut banyak memiliki sifat ambigu, yang mana para ilmuwan muslim memiliki kesimpulan bahwa pengetahuan yang kita dapat dari penginderaan belum tentu itu merepresentasikan fakta, dan juga pengetahuan akal yang dikatakan melebihi dari pengetahuan indera akan tetapi masih saja membutuhkan metode lain untuk mengarahkannya kepada koridor kebenaran, maka para ilmuwan muslim khususnya dari kalangan sufi mengklaim bahwa ada satu metode lain yang dirasa lebih sempurna dari kedua metode tersebut. Metode tersebut yakni metode irfani.

Metode irfani ini menggunakan hati/qalb, yang sudah tidak hanya melihat ataupun mempersepsi lagi layaknya indera dan akal, akan tetapi hati sudah mampu merasakan. Karena metode ini menisbatkan pada pengalaman atau merasakan sesuatu, maka boleh jadi bahwa pendekatan irfani ini dapat mewakili sepenuhnya tentang pengetahuan tersebut. Kita contohkan saja kepada rasa rindu, maka sebelum kita benar-benar mengalamai rasa rindu tersebut, maka kita hanya bisa membayangkan saja rasa rindu tersebut melewati media akal yang mana tidak bisa dijanjikan kebenaran dari kesimpulannya.

Tentu saja tidak semua orang mampu memotensikan hatinya untuk merasakan realitas pengetahuan, maka dari itu dibutuhkan cara-cara agar kita dapat memotensikan hati kita agar dapat digunakan untuk merengkuh pengetahuan yakni dengan cara tazkiyah al-nufùs, karena tergeraknya hati untuk menggapai pengetahuan membutuhkan jiwa yang bersih.

Kesimpulan
Melihat bahwa realitanya bahwa masyarakat islam pada waktu itu mengalami masa-masa kejayaan, maka bisa kita katakan bahwa Islam pada waktu itu telah terdisiplinkan jauh melampaui barat, dan Islam-lah yang sebenarnya telah memulai upaya pengayaan ilmu sebelum barat. Selain itu juga tradisi ilmiah di islam tidak hanya menitikberatkan pada aspek fisik saja akan tetapi samapi kepada aspek metafisik yang berbeda dengan tradisi barat, dengan ini dapat dikatakan bahwa tradisi ilmiah Islam lebih kaya daripada tradisi ilmiah di barat.(ridhoyahya)

About these ads

25/06/2011 - Posted by | panti yatim | , , , , , , ,

Sorry, the comment form is closed at this time.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: