mediajava

blog berita,info,Herbal,news,iklan

Untaian Mutiara Nabi dan Imam

I.Amirul Mukminin Ali bin Abi Talib as berkata meriwayatkan :
“Seorang lelaki datang bertemu Rasulullah saaw, dan meminta Baginda saaw mengajarkan suatu perbuatan yang dengannya, dia bisa meraih kedua dua cinta Allah Yang Maha Tinggi dan manusia, kekayaannya bisa bertambah, tubuhnya menjadi sehat, umurnya bisa panjang dan dia bisa dibangkitkan bersama dengan Rasulullah saaw.

Lalu Rasulullah saaw bersabda, “Ini adalah enam ciri yang memerlukan enam syarat :
1. Jika engkau ingin dicintai Allah, bertakwalah padaNya dan peliharalah dirimu dari dosa.
2. Jika engkau ingin dicintai manusia, bersikap baiklah dengan mereka dan jangan mengharapkan apa yang ada pada mereka.
3. Jika engkau ingin Allah menambahkan kekayaanmu, maka keluarkanlah zakatnya.
4. Jika engkau ingin Allah menyihatkan tubuhmu, perbanyakkanlah bersedekah.
5. Jika engkau ingin Allah memanjangkan usiamu, bersilatur rahimlah dengan kerabatmu
6. Dan jika engkau ingin bangkit bersamaku, panjangkanlah sujudmu dihadapan Allah, Penguasa Yang Esa. (Safinatul Bihar, jilid 1, hlm 599 )

II.Imam al-Baqir as berkata, “Tertulis di dalam Taurat, Allah berfirman kepada Nabi Musa as; “Wahai Musa! Kendalikan marahmu ke atas mereka yang Aku jadikan engkau berkuasa ke atas mereka, dan engkau bakal terhindar dari murkaKu” . (Al Kafi)

Firman Allah:
“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. (QS Ali Imran:134)

III.Nabi Muhammad saaw bersabda, “”Kemarahan adalah daripada syaitan dan syaitan diciptakan daripada api. Seperti api dipadamkan dengan air, setiap kali seseorang di antara kalian marah ia harus melakukan wudu’ pada waktu itu. ” (Mizan al Hikmah)

Imam Jaafar as Shadiq as berkata, “Seorang Mukmin adalah orang yang ketika marah, kemarahannya tidak mengarahnya menjauh dari kebenaran ” .(Al Kafi)

IV.Al-Quran dengan jelas menyatakan:
“Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan:
“Sesungguhnya saya bertaubat sekarang” Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih”.
(QS An Nisa 4:18)

Sekali seseorang berkata di hadapan Amirul Mukminin Ali bin Abi Talib as, “Aku bertaubat kepada Allah.” Imam berkata kepadanya: “Semoga ibumu menangis untukmu! Adakah engkau tahu apakah itu taubat? Taubat adalah derajat orang-orang yang tinggi kedudukannya. Ia adalah nama yang berlaku pada enam makna:
Pertama : Penyesalan atas dosa yang telah lalu.
Kedua : Bertekad untuk tidak kembali pada perbuatan dosa itu selamanya.
Ketiga : Mengembalikan hak orang lain yang telah diambilnya (tanpa hak) sehingga kamu berjumpa dengan Allah dalam keadaan terlepas dari tuntutan seorangpun.
Keempat : Hendaklah kamu memperhatikan setiap kewajiban atasmu yang sebelumnya telah kamu sia-siakan sehingga kamu dapat memenuhi kewajiban itu.
Lima : Hendaklah kamu perhatikan daging yang telah tumbuh dari hasil yang haram, lalu kamu kuruskan dia dengan kesedihan sehingga kulitmu menempel pada tulang, lalu tumbuh diantara daging yang baru (dari hasil yang halal).
Enam : Hendaklah kamu rasakan badanmu dengan sakitnya ketaatan, sebagaimana kamu telah merasakannya dengan manisnya kemaksiatan.
Maka ketika itulah kamu layak mengucapkan “Astaghfirullah”.

FirmanNYA SWT :
“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah. Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengatahui”. (QS An Nisa:135)

“Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”.
(QS An Nur:31)

V.Rasulullah saaw bersabda :
“Wahai hamba-hamba Allah, anda seperti orang sakit, dan Pencipta dunia adalah seperti seorang doktor. Urusan dan kesejahteraan para pesakit terletak pada doktor sesuai dengan pengetahuannya, bukan pada hasrat dan keinginan pesakit. Berserah dan tunduk patuhlah kepada perintah-perintah Allah dalam rangka untuk bergabung dengan barisan orang yang diselamatkan. ” (Majmu’a-al Wiram, jil. II, hal 117)

VI.Amiril Mukminin Ali bin Abi Talib as berkata :
“Kekanglah jiwamu yang memberontak dan melampau dengan meninggalkan kebiasaan berbuat dosa, paksalah untuk mentaati perintah-perintah Allah, dan hukumlah ia sebagai imbalan atas pelanggarannya terhadap Allah, lalu hiasi dengan akhlak kebajikan dan jauhkan dari pencemaran dosa”. (Ghurar al-Hikam, hal 407)

VII.Imam Jaafar as Shadiq as berkata :
“Kehidupan manusia tidak lebih daripada seketika. Apa yang telah berlalu kini sirna, dan anda tidak merasakan kesenangan atau penderitaannya lagi. Sedangkan apa yang belum datang, anda belum pasti”.

“Yang benar dan bekal berharga dalam hidup anda adalah beberapa saat yang sedang anda nikmati. Kuasai jiwa anda, dan berusaha untuk menebus diri anda dan mencapai keselamatan; teguhlah dalam menghadapi kesukaran dalam menyembah Allah dan mematuhi perintah-perintah-Nya dan peliharalah anda diri daripada pencemaran dosa dan ketidaktaatan kepada Allah”. (Al-Kafi, jil. II, hal 454)

VIII.Suatu ketika, seorang lelaki bertanya Rasulullah saaw, “Orang seperti apakah yang paling dicintai Allah?” Baginda saaw menjawab, “Yang paling berguna pada manusia”. (Wasail as Syiah)

Juga diriwayatkan dari Rasulullah saaw, yang bersabda,
“Semua manusia adalah milik Allah, dan yang paling dicintai Allah adalah mereka yang berlaku lunak pada keluarganya”. (Wasail as Syiah)

“Pelaku kebaikan itu lebih baik dari kebaikan dan pelaku kejahatan itu lebih buruk dari kejahatan”. (Tuhaf al Uqul an Aali ar Rasul)

Rasulullah saaw bersabda dalam hal terkait, “Mereka yang membimbing manusia pada kebaikan adalah seperti yang melakukan kebaikan itu sendiri”. (Tuhaf al Uqul an Aali ar Rasul)

Baginda saaw juga bersabda, “Janganlah melakukan kebaikan semata mata untuk dipamerkan (riya’) dan jangan meninggalkan kebaikan semata mata karena sikap malu”. (Tuhaf al Uqul an Aali ar Rasul)

IX.Allah SWT berfirman:
“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu, dengarkan, taatlah, dan berinfaklah; karena yang demikian itu lebih baik bagimu. Dan barang siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (QS At Thagabun:16)

Dalam hal ini, Amiril Mukminin Ali as berkata,
“Kedermawanan menghapuskan dosa dan menarik kecintaan di hati”. (Ghurar al-Hikam)

“Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebaikan dihadapkan (di mukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara dirinya dengan hari itu ada masa yang jauh; dan Allah memperingatkanmu terhadap diri-Nya. Dan Allah sangat penyayang kepada hamba-hamba-Nya”. (QS Ali Imran:30)

09/11/2010 - Posted by | Mutiara Hikmah | , , , , , , , , , , ,

Sorry, the comment form is closed at this time.

%d bloggers like this: