mediajava

blog berita,info,Herbal,news,iklan

KORAN atau QUR’AN

Dimasa penjajahan Belanda di Nusantara, ketika Suratkabar (atau Newspaper dalam Bahasa Inggris-nya) mulai diterbitkan pertama kalinya didalam bahasa Belanda, maka sesuai dengan Bahasa Belanda disebut sebagai “Krant” atau “Dagbrief” atau “Nieuspapier”.
Namun didalam percakapan sehari-hari, warga Belanda yang tinggal di Indonesia tidak menyebutnya dalam istilah Bahasa Belanda tersebut apabila berkomunikasi dengan warga pribumi, melainkan istilah yang digunakan adalah “Koran”. Padahal didalam kausa kata Bahasa Belanda tidak ada istilah “Koran” yang berarti “Suratkabar”.
Misalnya saja jika seorang Tuan Belanda akan menyuruh jongosnya (pembantu rumahtangga laki-laki) untuk mengambilkan suratkabar, maka si Tuan Belanda itu akan berujar, “Hai jongos ambilkan koran itu kesini !”.
Jadi kata “Koran” secara sengaja dipopulerkan oleh Bangsa Belanda di Indonesia sebagai kata ganti “Krant”, khusus bagi kalangan penduduk pribumi .
Baru kemudian setelah Indonesia merdeka dan Bahasa Indonesia ditetapkan sebagai Bahasa Nasional, maka kata “Dagbrief” atau “Nieuspapier” diterjemahkan menjadi “Suratkabar”.
Namun demikian karena istilah “Koran” sudah terlanjur populer dikalangan rakyat Indonesia, maka sampai sekarangpun sebagian terbesar rakyat Indonesia masih menggunakan istilah “Koran” didalam percakapan lisan sehari-hari. Sedangkan istilah “Suratkabar” hanya digunakan didalam bahasa tertulis dan percakapan resmi. Memang harus diakui ditinjau dari sudut pengucapannya, kata “Koran” lebih mudah dan lebih effisien diucapkan dibandingkan dengan kata “Suratkabar”

Penggunaan kata “Koran” untuk Suratkabar yang dipopulerkan oleh orang Belanda selama menjajah Indonesia, disamping berasal dari kata “Krant” yang dilafazkan sebagai “Koran” yang lebih mudah bagi lidah orang Indonesia, juga mengandung maksud lainnya yang tersembunyi.
Sebagaimana diketahui orang Eropah, seperti Inggris dan Belanda melafalkan kata “Qur’an” (Kitab Suci Agama Islam) dengan bunyi “Qoran” atau “Koran”.
Sehingga pengucapan “Krant” menjadi “Koran” juga dimaksudkan sebagai pelecehan terhadap Al Qur’an, Kitab Suci Agama Islam, yaitu bertujuan ingin menyamakan kedudukan Suratkabar (Koran) dengan Al Qur’an (Koran dalam lafal Belanda), dalam arti Al Qur’an itu adalah kurang-lebih sama dengan Suratkabar, yang hanya memuat berita-berita yang kadangkala pula diragukan akurasinya.

Sampai saat ini kiranya masih banyak umat Islam di Indonesia yang tidak mengetahui motif dibalik penggunaan kata “Koran” tersebut di atas.
Bagaimana jika kita gunakan saja istilah “Suratkabar” baik dalam bahasa tulisan maupun bahasa lisan, baik sebagai bahasa resmi maupun bahasa sehari-hari.
Muchyar Yara
KIO-Kajian Islam Otentik.(www.markaskio.wordpress.com)

08/12/2010 - Posted by | Sekilas info | , , , , , , , , , , , , ,

Sorry, the comment form is closed at this time.

%d bloggers like this: