mediajava

blog berita,info,Herbal,news,iklan

Ghadir Khumm: Peristiwa Yang Hampir Terlupakan (Bagian 1)

Mayoritas kaum muslimin sepertinya tidak mengetahui tentang sebuah peristiwa yang teramat penting, yang terjadi pada tahun 10 Hijriyah, yaitu pelantikan Ali bin Abi Thalib sebagai Amirul Mukminin, khalifah sepeninggal Rasul Saw di hadapan puluhan ribu bahkan ada riwayat yang mengatakan seratus ribu atau lebih kaum muslimin. Ketidaktahuan umat ini lebih disebabkan oleh pekatnya kabut sejarah yang menyelimuti kaum muslimin pasca wafatnya Nabi. Sangat jarang guru-guru agama, penceramah, ustadz dan ustadzah yang me-nyampaikan cerita ini di mimbar-mimbar ataupun di majelis-majelis taklim. Toh, kalaupun ada, yang mereka sampaikan umumnya cerita yang tidak utuh atau terputar balik. Tahun ini perayaan Ghadir Khumm jatuh pada hari Khamis tanggal 25 November 2010.

Bermula, pada hari itu tanggal 18 Dzulhijjah 10 H, Nabi Muhammad Saw beserta rom-bongan berangkat dari Mekkah menuju Madinah setelah melaksanakan Haji Wada’ atau Haji Perpisahan. Ditengah perjalanan yang terik, tiba-tiba Rasul Saw menerima wahyu yang disampaikan oleh Malaikat Jibril, yang berbunyi:
“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Maidah 5:67).

Ghadir Khumm adalah suatu tempat (lembah) yang terletak di sebelah utara Makkah, merupakan persimpangan jalan menuju ke arah Madinah, Mesir dan Syam. Di tempat ini biasanya rombongan kafilah berpisah ke berbagai jurusan. Di tempat inilah Rasul Saw dan rombongan berhenti untuk menyampaikan pengumuman penting sehubungan dengan suksesi (pergantian kepemimpinan) setelah beliau wafat.

Bahwa ayat yang terkenal dengan nama ayat ‘tabligh’ (sampaikan) ini turun dalam peristiwa Ali bin Abi Thilib di Ghadir Khumm, diriwayatkan oleh banyak ulama Sunni, seperti ath-Thabari, Ibnu Hatim, Ibnu Mardawaih, as-Suyuthi, Ibnu Katsir, an-Nasa’i, Imam Ahmad bin Hanbal, Ibnu Majah, dan lain-lain. Menurut Husain al-Mahfuzh, seorang sarjana peneliti dalam bukunya Tarikh asy-Syi’ah, seperti dinukil dalam buku “Saqifah Awal Perselisihan Umat”, O. Hashem, peristiwa Ghadir Khumm ini sedikitnya dicatat oleh lebih dari 110 Sahabat Nabi, 84 tabi’in, 355 ulama, 25 ahli sejarah, 27 ahli hadis, 11 mufasir’, 18 ahli ilmu kalam dan 5 ahli bahasa, sehingga riwayat ini tergolong mutawatir.

Dalam buku Saqifah diceritakan, Rasul Saw menyuruh orang berkumpul dan menjadikan batang-batang pohon sebagai tiang untuk membangun kemah dengan rnerentangkan kain untuk berteduh dari sengatan matahari. Setelah shalat lohor pada tengah hari yang menyengat beliau mengucapkan Alhamdulillah, memuji Allah SWT, lalu menyampaikan khotbahnya- Setelah mengucapkan apa yang dikehendaki Allah SWT untuk disampaikannya, beliau berucap: “Wahai manusia, hampir tiba saatnya aku akan dipanggil dan aku pasti akan memenuhi panggilan itu. Dan aku akan dimintai pertanggungjawaban, maka apa yang akan kamu katakan?” Mereka menjawab: “Kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan dan telah memberi nasehat dengan tulus. Semoga Allah memberi balasan yang sebaik-baiknya.” Lalu Rasul Allah saw bersabda: “Bukankah kalian bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, dan bahwa surga-Nya adalah benar, dan neraka adalah hak.” Jemaah: “Kami bersaksi seperti yang engkau sampaikan!” Rasul saw berkata: “Ya, Allah saksiknlah! Apakah kalian mendengarkan?” Jemaah: “Betul.” Rasul Allah saw melanjutkan:

“Wahai manusia sekalian, ketahuilah bahwasanya aku akan menjadi pendahulumu meninggalkan dunia ini, dan aku akan menunggumu di telaga Haudh. Haudh yang lebih luas dari (daerah antara) Bashra sampai ke Shan’a di mana tersedia gelas-gelas perak sebanyak bilangan bintang-bintang di langit. Dan aku akan bertanya kepadamu tentang dua hal yang berat dan berharga, ats-Tsaqalain, bagaimana kamu memperlakukannya sepe-ninggalku. Yang sebuah adalah yang terbesar yaitu Kitab Allah Azza wa Jalla, ujungnya yang satu di tangan Allah dan yang lain di tanganmu. Maka berpeganglah erat-erat kepadanya niscaya kamu tidak akan sesat dan tidak berubah arah. Dan yang lain adalah ithrah-ku, Ahlul¬ bait-ku sebab Allah Yang Maha Meliputi dan Maha Mengetahui telah memberitahukan kepadaku bahwa kedua-duanya tidak akan berpisah sampai menemuiku di Haudh. Dan janganlah kamu mendahului atau mengecilkan keduanya karena dengan berbuat demikian kamu akan celaka, dan janganlah meng-gurui mereka karena mereka lebih tahu dari kamu!” (HR. Thabrani, Majma az-Zawa’id; ada lafal yang sedikit berbeda dalam al-Hakim, jilid 3, hal. 109-110; Ibnu Katsir, Tarikh, jilid 5, hal. 209).
Rasul Allah saw bersabda lagi: “Tahukah kalian bahwa akulah yang terdahulu menjadi mu’min dari diri mereka sendiri?!” Hadirin: “Benar!” Rasul Allah: “Tidakkah kalian menge-tahui dan menyaksikan bahwa aku adalah paling utama menjadi wali bagi setiap kaum mu’minin lebih dari diri mereka sendiri?” Rasul Allah saw lalu memegang dan mengangkat tangan Ali bin Abi Thalib dengan kedua tangannya sehingga hadirin dapat melihat kedua ketiaknya yang putih. Kemudian Rasul Allah saw bersabda: “Wahai manusia sekalian! Allah adalah maulaku dan aku adalah maula kalian, maka barang siapa yang menganggap aku sebagai maulanya, maka Ali ini (juga) adalah maulanya! Ya Allah, cintailah siapa yang memper-walikannya, dan musuhilah siapa yang memusuhinya!” Lihat Musnad Ahmad, jilid l, hal. 118, 119, jilid 4, hal. 281, 370, 372, 382, 383 dan jilid 5, hal. 347, 370; al-Hakim, Mustadrak, jilid 3, hal. 109; Sunan Ibnu Majah; al-Hakim al-Haskani, jilid 1, hal. 190, 191; Ibnu Katsir, Tarikh, jilid 5, hal. 209-213.

Ibnu Katsir meriwayatkan dengan kalimat: “Dan aku berkata kepada Zaid: “Apakah engkau mendengarnya dari Rasul Allah?” Zaid menjawab: “Setiap orang yang berada dalam kemah-kemah itu melihat dengan kedua matanya dan mendengar dengan kedua kupingnya”. Kemudian Ibnu Katsir berkata: “Telah berkata Syaikh kita Abu Abdullah Dzahabi: “Hadis ini adalah shahih!” “Tolonglah siapa yang menolongnya dan tinggalkan siapa yang meninggalkannya.” Cintailah siapa yang mencintainya dan bencilah siapa yang mem-bencinya!” Selanjutnya beliau bersabda: “Ya Allah, aku bersaksi!” Rasul Allah saw tidak berpisah dengan Ali sampai turun ayat Surah al-Maidah ayat 3: “…Hari ini telah Kusem-purnakan agamamu bagimu, dan telah Kucukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Kupilih Islam bagimu sebagai agama.” Akhirnya Rasul Allah bersabda: “Allah sungguh Maha Besar dengan menyempurnakan agama-Nya dan mencukupkan nikmat-Nya serta meridhai risalahku dan menetapkan wilayah (kepemimpinan, red) bagi Ali!”

Sesudah itu Umar bin Khattab datang bersama jemaah menemui Ali dan Umar berkata: “Alangkah bahagianya Anda (hani’an laka) wahai Ibnu Abi Thalib, Anda menjadi maula setiap mu’min dan mu’minat!” atau dengan kata-kata: “Bakhin, bakhin laka ya abal Hasan” (Selamat ya ayah dari Hasan!). Lihatlah Syawahid at-Tanzil, jilid 1, hal. 101. Untuk lafal terakhir lihat Musnad Ahmad, jilid 4, hal. 281; Sunan Ibnu Majah, Bab Fadhail Ali dan Muhibbuddin Thabari, Ar-Riyadh an-Nadhirah, hal. 169. Lihat juga Ibnu Katsir, Tarikh, jilid 5, hal. 210.■ Sy (bersambung…)

18/12/2010 - Posted by | Sekilas info | , , , , , , , ,

Sorry, the comment form is closed at this time.

%d bloggers like this: