mediajava

blog berita,info,Herbal,news,iklan

Saudi Arab-AS(amerika) Bersatu Pertahankan Rezim Monarki Bahrain

Dengan dalih ikut mengamankan lembaga-lembaga pemerintah di Manama dan dalam kerangka Dewan Kerjasama Teluk Persia (PGCC). Arab Saudi mengirimkan pasukan militer Arab Saudi ke Bahrain, ini mengindikasikan adanya koalisi terarah antara Amerika Serikat, Arab Saudi dan Bahrain.

Lebih dari seribu pasukan militer Saudi dikerahkan ke Bahrain di bawah komando pasukan Dewan Kerjasama Teluk Persia. Berdasarkan kesepakatan negara-negara anggota organisasi tersebut, pasukan PGCC akan berada di bawah komando negara tujuan. Koran al-Ayam Bahrain belum lama ini melaporkan, pasukan PGCC diturunkan untuk menjaga keamanan Bahrain. Televisi Al Jazeera juga melaporkan bahwa Arab Saudi mengirimkan pasukannya ke Bahrain untuk membantu Raja Hamad bin Isa Al Khalifa dalam menumpas demonstran anti-pemerintah.

Riyadh dan Manama memiliki hubungan politik dan ekonomi yang kuat. Arab Saudi tercatat sebagai penyokong dana terbesar Bahrain. Kebanyakan komunitas Syiah Saudi di wilayah Al Sharqiyah juga punya ikatan kekeluargaan dengan Syiah Bahrain. Hal ini menjadi kekhawatiran tersendiri bagi Riyadh terhadap peningkatan protes rakyat di Saudi.

Pemerintah Manama dalam sebuah rilisnya membenarkan kehadiran pasukan Arab Saudi di Bahrain dan misi itu sejalan dengan kesepakatan kerjasama enam negara anggota PGCC. Sebelumnya, Menteri Pertahanan Amerika Robert Gates dalam pertemuan dengan putra mahkota Bahrain di Manama, menyatakan bahwa jika para pemimpin Bahrain ingin mencegah intervensi Iran di negaranya, maka mereka perlu mempercepat proses reformasi. Gates juga menyatakan dukungannya atas stabilitas Bahrain.

Mencermati proses yang ada, Amerika sepertinya tidak begitu tertarik atas perubahan rezim-rezim monarki dan otoriter di kawasan Teluk Persia. Riyadh dan Manama dapat menjadi penentu stabilitas Gedung Putih di kawasan, karena Saudi tercatat sebagai produsen minyak terbesar, sementara Bahrain menjadi tempat bagi Armada Kelima Angkatan Laut Amerika.

Dari sisi lain, Amerika tengah berupaya mengubah kebijakan stabilitas regional menjadi kebijakan Iranphobia. Langkah ini bertujuan memperkokoh hubungan regional dan memelihara kehadirannya di tengah negara-negara Arab di kawasan Teluk Persia. Saudi sebagai pemain aktif di kawasan, ditugaskan untuk mengelola transformasi di Bahrain, pertama mengontrol kawasan berpenduduk Syiah dan kedua mengendalikan protes rakyat dengan alasan mencegah pengaruh Iran.

Memperhatikan langkah-langkah yang tempuh Amerika dan Saudi di Bahrain, jelas terlihat ada koalisi terarah antara tiga negara. Riyadh dan Washington berupaya mengelola perkembangan di kawasan strategis Teluk Persia demi tujuan-tujuan regionalnya. Kali ini, Amerika kembali dipaksa untuk memilih antara demokrasi dan stabilitas, tentu setelah mereka belajar dari revolusi Mesir yang menjatuhkan Hosni Mubarak.(sumber;konspirasi)

12/04/2011 - Posted by | Sekilas info | , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Sorry, the comment form is closed at this time.

%d bloggers like this: