mediajava

blog berita,info,Herbal,news,iklan

Keluarga Sehat dan Agama (bag.ke 25)

Masa remaja merupakan saat-saat yang paling penting dan sensitif dalam kehidupan manusia. Pada masa ini terjadi perubahan pada fisik dan mental anak-anak remaja yang berdampak pada diri mereka. Terkadang perubahan alamiah ini mengubah kepribadian dan perilaku mereka secara keseluruhan. Oleh karena itu, pengenalan dimensi-dimensi penting mental, nalar, fisik, dan etika remaja akan memberi kemampuan bagi dirinya dan orang-orang sekitar untuk mengetahui metode tepat menghadapi perubahan fisik dan mental pada usia remaja. Pengetahuan itu setidaknya mampu mencegah lahirnya ketidaksesuaian tertentu pada masa-masa itu. Masa remaja datang bersamaan dengan usia baligh. Sebuah fase yang paling menggoncangkan dalam kehidupan setiap individu. Masa remaja dan baligh biasanya antara usia 12-18 tahun. Terkadang terjadi sejumlah besar ketidakteraturan ketika melewati masa kanak-kanak dan memasuki usia baligh.

Pada fase ini, remaja tidak lagi disebut anak kecil, tapi juga belum sepenuhnya balig. Tapi ia berada di antara dua fase tersebut yaitu, anak-anak dan dewasa dan menghadapi sejumlah tuntutan yang ada pada dua fase tadi. Jika seorang remaja bertingkah seperti anak-anak, maka ia akan dicela sebab tidak sepantasnya ia berbuat seperti itu. Di sisi lain, ia juga belum terhitung dewasa.

Masa remaja sejak dulu menjadi perhatian para pemikir dan pakar pendidikan. Filosof besar Yunani, Plato menyebut masa ini sebagai fase penguasaan emosi dan perasaan atas akal dan pikiran. Pakar Psikologis remaja, Stanly Hall menilai masa remaja sebagai fase kegoncangan dan lompatan tiba-tiba. Sementara itu, Sosiolog dan Psikolog Jerman, Kurt Lewin meyakini bahwa anak-anak dan orang dewasa masing-masing pernah memikul beban kekanak-kanakan dan kedewasaan, namun seorang remaja harus merasakan keduanya dalam waktu bersamaan, sebab mereka berada di antara dua fase tadi, yaitu kanak-kanak dan dewasa.

Para pakar psikologis mengatakan, “Remaja adalah orang yang ingin mengubah metode yang sejak dulu hingga sekarang mereka jalani dan tentunya berbeda dengan masa lalu yang tidak menerima hal-hal yang dikemukakan oleh orang-orang dewasa.” Mereka terkadang mengubah gaya jalannya, aksen bicaranya, lebih sensitif terhadap masalah-masalahnya, dan secara perlahan mereka menyelami dunia batinnya. Anak-anak remaja secara perlahan memahami daya pikir dan kekuatan berargumentasi yang dimilikinya. Seluruh kondisi ini merupakan sebuah upaya yang akan tampak saat mengakhiri jalan kekanank-kanakan. Kondisi ini umumnya muncul bersamaan dengan reaksi jiwa dan mental.

Orang tua mulai memahami bahwa anak-anaknya yang patuh beberapa waktu lalu, kini secara umum telah berubah dan perilakunya juga berbeda. Anak remaja terkadang menjadi pendiam dan menyendiri, tapi terkadang mereka juga berusaha menarik perhatian orang lain meski dengan cara membangkitkan kemarahannya. Salah satu pertanyaan filosofis yang menghantui anak remaja adalah “Siapakah diriku ini?” Pertanyaan ini telah menggaduhkan pikiran manusia sejak berabad-abad lalu dan menjadi tema puisi, cerita, dan biografi yang tidak terhitung jumlahnya. Pertanyaan ini dapat membantu memahami identitas anak remaja.

Seorang Psikolog Jerman, Erik Homburger Erikson mengatakan, “Identitas manusia terbentuk pada usia remaja. Pada masa ini, anak remaja akan mengajukan sejumlah pertanyaan kepada dirinya seperti, “Siapakah diriku ini?” “Akan kemana aku melangkah?” Metode menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut akan berpengaruh pada perkembangan identitas anak remaja. Ia akan merasa tenang jika memperoleh jawaban yang tepat dan merasa gelisah jika jawaban pertanyannya itu tidak memuaskan.

Pada masa remaja, penemuan jati diri merupakan masalah tunggal, bahkan seorang remaja dari hari ke hari selalu mengubah haluannya demi menemukan jati dirinya. Pada masa ini, manusia menghadapi sekumpulan perubahan terkait pengenalan, kejiwaan, dan mental. Anak remaja mementingkan masalah ini dan bagaimana tampak di depan orang lain. Golongan ini selalu berupaya menyelaraskan antara persepsi yang ada pada dirinya dengan persepsi yang dimiliki orang lain tentang mereka. Terkadang pengucilan yang dilakukan oleh orang-orang di sekelilingnya atau masyarakat mungkin saja berdampak pada kesulitan untuk menemukan jati dirinya. Tapi penemuan jati diri individu sedikit banyak berhubungan dengan kemantangan berpikir.

Secara keseluruhan dapat kita katakan bahwa sebagian remaja berhasil menemukan jati dirinya dan sebagian lain juga gagal menemukannya. Terdapat sejumlah masalah yang turut mempengaruhi penemuan jati diri diri seseoran seperti, interaksi antara anak dan orang tua, masalah budaya, atau perubahan sosial. Pada masyarakat biasa dan awam dimana perubahan sosial berjalan sangat lamban, pembentukan jati diri juga terjadi melalui proses sederhana. Namun di tengah masyarakat modern yang menghadapi perubahan sangat cepat, pembentukan jati diri juga sangat rumit dan butuh proses lama. Sebab dalam masyarakat modern, kalangan remaja menghadapi berbagai teladan pemikiran dan perilaku yang membuat mereka kesulitan untuk menentukan pilihan.

Kriteria lain masa remaja adalah terjadinya perkembangan kematangan berpikir. Pakar psikologis dari Swiss, Jean Piaget (1896-1980) mengatakan, “Kemampuan berpikir anak-anak biasanya terbatas pada realita dan hal-hal yang bisa diindera dan pemikirannya bergantung pada sesuatu yang ada disekitarnya. Namun ketika memasuki usia remaja, mereka akan menemukan kemampuan berpikir yang luar biasa dan terlepas dari realita-realita disekelilingnya. Keadaan ini akan membuatnya memahami alam pemikiran dan batinnya.”

Para psikolog menilai masa remaja sebagai awal dimulainya fase pemikiran abstrak. Pada masa ini, anak-anak remaja merasa memiliki kekuatan luar biasa. Mereka mulai mampu memahami preposisi logika dan argumentasi ilmiah juga semakin kuat dalam diri mereka. Pada fase ini, potensi dan kapasitas juga akan tampak lebih spesifik, sebagai contoh; mungkin saja pada masa ini mereka meraih kesuksesan dalam pelajaran atau skil lain. Selain itu, pada fase ini masa kekanan-kanakan juga hilang dan anak remaja mulai sibuk menganalisa dan menimbang berbagai masalah hingga merekonstruksi masalah tersebut dalam sistem nalar mereka.

Oleh karena itu, mungkin saja mereka meragukan sebagian hal-hal yang tampak jelas dan umum bahkan juga mulai mengkritik pemikiran dan keyakinan orang tuanya. Perlu diketahui bahwa anak-anak remaja tengah berupaya memperoleh kemandirian berpikir yang mungkin saja meragukan sesuatu yang diyakininya. Tapi mereka tidak ingin menafikan sesuatu tersebut, namun mereka ingin merekonstruksi dan menemukan landasan argumentatif atas sesuatu itu. Untuk itu, orang tua dan tenaga pendidik tidak perlu mengkhawatirkan keraguan yang dimiliki anak remajanya. Namun harus membantu mereka untuk mencapai keyakinan. Keraguan bukan terminal yang baik, tapi ia adalah jalan yang tepat untuk menuju kebenaran dan keyakinan.

Ciri khas lain usia remaja adalah mendeklarasikan keberadaannya. Salah satu puncak kenikmatan jiwa dan mental pada usia remaja adalah membuktikan dan mendemonstrasikan seluruh kemampuan dan kapasitas yang dimilikinya. Mereka akan berupaya maksimal untuk mencapai tujuan tersebut. Rasa ingin beradaptasi dengan masyarakat juga termasuk kecenderungan jiwa yang dimiliki oleh remaja dan pemuda. Mereka akan putus asa dan depresi jika gagal dalam masalah ini. Pakar psikolog, Dr. Harist mengatakan, “Remaja dan pemuda adalah individu yang mandiri. Kita harus memandang mereka sebagai orang-orang yang memiliki kepribadian. Pada masa baligh, manusia sangat haus perhatian dan juga sangat ingin dijadikan sebagai teman pergaulan.”(irb/prs)

29/10/2011 - Posted by | Mutiara Hikmah | , ,

Sorry, the comment form is closed at this time.

%d bloggers like this: